Reminder : Penyaji Presentasi POSTER Dalam Temu Pakar Bioteknologi 2012 – Diminta Mengirimkan Makalah Lengkapnya

Sebelumnya atas nama Panitia Pelaksana Temu Pakar Bioteknologi 2012, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada rekan-rekan sejawat dan stakeholder bioteknologi lainnya yang telah berpartisipasi dalam Temu Pakar Bioteknologi 2012. Anstusiasme yang ditunjukkan oleh partisipan sangat kami hargai dan telah dijadikan sebagai indikator perlunya wadah bagi stakeholder bioteknologi tanaman untuk bersilaturrahim dan berkomunikasi serta menyalurkan hasil-hasil penelitiannya.

Selanjutnya, kepada rekan sejawat yang telah berpartisipasi sebagai penyaji presentasi POSTER dalam Temu Pakar Bioteknologi 2012 dan yang belum mengirimkan makalah lengkapnya, dimohon untuk dapat mengirimkan makalah lengkapnya ke Panitia Pelaksana Temu Pakar Bioteknologi 2012 untuk digabungkan dalam bentuk Prosiding Temu Pakar Bioteknologi 2012.

Continue reading

Posted in Announcement, Info dari Panitia, Pengumuman

P.10. AMPLIFIKASI LINTAS SPESIES MARKA SSR JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) DALAM GENUS: POLIMORFISME ALEL DAN DERAJAT HUBUNGAN

Darmawan Saptadi1, Asep Setiawan2, Bambang Heliyanto3, Sudarsono2
1Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta, Universitas Brawijaya, Jl. Veteran, Malang (darmawansaptadi@gmail.com). 2Lab. PMB, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Faperta, IPB. Jl. Meranti, Kampus Darmaga, Bogor 16680 (s_sudarsono@ymail.com). 3Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat, Jl. Raya Karangploso km. 4, Malang

Abstrak

Marka SSR mempunyai sifat transferable sehingga dapat digunakan untuk mengakses keragaman genetik spesies lain di luar spesies di mana marka tersebut dikembangkan. Di Indonesia ada empat kerabat dekat Jatropha curcas yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai sumber keragaman baru melalui persilangan insterspesies. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan amplifikasi lintas spesies marka SSR yang telah dikembangkan dari J. curcas kepada spesies kerabatnya (J. integerrima, J. multifida, J. gossypifolia, J. podagrica) dan mengetahui derajat hubungan antara spesies-spesies tersebut.

Continue reading

Posted in Mini Poster | Tagged , , , , | Leave a comment

P.13. CONTRIBUTION OF CAMEROON’S WILD OIL PALM POPULATION TO THE DEVELOPMENT OF THE WORLD PALM OIL INDUSTRY AND A MOLECULAR GENETIC EVIDENCE FOR THIS WIDESPREAD USE

AJAMBANG W1,2, SUDARSONO2, NGANDO E1, KOONA P1
1 Specialised Centre for Oil Palm Research, CEREPAH-IRAD Cameroon; 2 PMB Lab, Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, IPB, Indonesia

Abstrak

The cultivation of oil palm (Elaeis guineensis Jacq.) on industrial plantations began after the introduction of some 04 palms by the Dutch to Indonesia in 1848 from Africa. Intensive breeding from this  narrow genetic base of the South East Asian oil palm industry has led to limited variation within elite breeding population thereby reducing the rate of future progress in crop improvement. The use of wild genotypes are known to broaden the genetic base of breeding populations because of thier high rate of heterozygosity.

Continue reading

Posted in Mini Poster | Tagged , , ,

P.8. PENELUSURAN POTENSI GENETIK BUNGA MATAHARI TERKAIT KARAKTER TOLERAN KEKERINGAN BERDASARKAN PENANDA SSR

Noer Rahmi Ardiarini1), Mochammad Roviq1), Anik Herwati2)
1Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta, Universitas Brawijaya, Jl. Veteran, Malang. 2Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat, Jl. Raya Karangploso km. 4, Malang

Abstrak

Pemuliaan tanaman bunga matahari (Helianthus annus L.) untuk menghasilkan kultivar yang toleran terhadap kekeringan perlu dilakukan. Penelusuran identitas gen yang mengatur toleransi terhadap kekeringan berguna untuk membantu proses pemuliaan tahap seleksi. Pendekatan menggunakan penanda molekuler SSR yang merupakan penanda ko-dominan yang efektif dapat membantu mempercepat tercapainya tujuan pemuliaan bunga matahari.

Continue reading

Posted in Mini Poster | Tagged , , , | Leave a comment

P.36. FENOTIPE BUAH PISANG AMPYANG (Musa acuminata, AAA) HASIL MUTASI INDUKSI SECARA IN VITRO

Reni Indrayanti1), Nurhajati A. Mattjik2), Sudarsono2)
1)Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Jakarta, Jl. Pemuda No.10 Rawamangun, Jakarta 13220, Indonesia (reni_yanti@yahoo.com). 2)Lab. PMB, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Faperta, Institut Pertanian Bogor, Jl. Meranti Kampus IPB Darmaga 16680, Indonesia (s_sudarsono@ymail.com)

Abstrak

Pisang dan plantain (Musa sp.) merupakan tanaman yang diperbanyak secara vegetatif sehingga memiliki keragaman genetik yang rendah. Peningkatan keragaman genetik tanaman melalui teknik mutasi induksi secara in vitro merupakan suatu alternatif untuk perbaikan dan pengembangan tanaman buah. Tujuan percobaan adalah untuk mengkarakterisasi fenotipe buah pisang Ampyang hasil mutasi induksi secara in vitro. Klon tanaman pisang cv. Ampyang hasil induksi mutasi (Co-60: 0, 20, 25, 30, 40, 45 dan 50 Gy) yang telah diproliferasi selama 10 bulan, diaklimatisasi dan ditumbuhkan di rumah kaca selama 6 bulan, selanjutnya di evaluasi variasi fenotipe buah secara kuantitatif di lapangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa persentase tanaman berbuah sampai usia 14-17 bulan setelah tanam dilapangan sebesar 10.0-29.4%. Tanaman yang berasal dari eksplan yang tidak diradiasi (0 Gy), tanaman hasil iradiasi 30 dan 50 Gy menghasilkan jumlah sisir buah pertandan, jumlah buah pertandan, bobot tandan, bobot satuan buah, panjang buah yang lebih besar dari tanaman yang berasal dari hasil iradiasi 25, 40 dan 45 Gy. Tanaman yang berasal dari hasil iradiasi 45 Gy umumnya menghasilkan bentuk buah yang kecil. Berdasarkan hasil penelitian ini, mutasi induksi dengan iradiasi gamma yang diikuti dengan proliferasi tunas secara in vitro dapat menghasilkan variasi fenotipe buah pisang cv. Ampyang di lapangan.

Kata kunci:    M. acuminata (AAA, sub-grup non-Cavendish), iradiasi gamma

Mini Poster - Reni I et al. Fenotipe varian pisang ampyang

Mini Poster – Reni I dkk.
Fenotipe varian Pisang cv. Ampyang

Posted in Mini Poster | Tagged , , ,

P.40. EMBRIOGENESIS SOMATIK LANGSUNG DAN REGENERASI PLANTLET ANTHURIUM CV. BURGUNDI

Irni Furnawanthi*), Minaldi, Mardoni Elya
Balai Pengkajian Bioteknologi, BPPT. Gedung 630 Kawasan Puspiptek Serpong. (irni_f@yahoo.com)

Abstrak

Anthurium cv Burgundi memiliki serat, bentuk, dan warna daun eksotik, menghasilkan rona merah atau hitam pada saat terpapar cahaya matahari. Anthurium dengan kriteria warna tersebut memiliki harga jual lebih tinggi dibandingkan dengan yang berwarna hijau, sehingga jenis ini potensial untuk dikembangkan. Perbanyakan bibit tanaman dengan sifat sama dengan induknya dapat dilakukan melalui teknik penyerbukan sendiri. Pada anthurium penyerbukan sendiri jarang terjadi karena bunga betina matang 2 – 4 hari lebih awal daripada bunga jantan. Kendala ini dapat diatasi dengan melakukan perbanyakan tanaman anthurium menggunakan teknik kultur jaringan dengan metode embriogenesis somatik. Teknik ini bertujuan untuk menghasilkan tanaman yang sama dengan induknya, waktu perbanyakan yang dapat diprediksi dan dapat dilakukan peningkatan kualitas tanaman melalui teknik molekuler. Embriogenesis somatik Anthurium cv Burgundi menggunakan eksplan berupa daun dengan rancangan acak lengkap 2 faktor terdiri dari 4 taraf konsentrasi IBA (0; 0,5 mg/l; 1 mg/l; 1,5 mg/l) dan 4 taraf konsentrasi 2,4D (0; 0,1 mg/l; 0,2 mg/l; 0,3 mg/l), dari hasil pengamatan diperoleh inisiasi kalus terbaik terdapat pada media dengan komposisi IBA 1 mg/l dan 2,4D 0,1 mg/l dengan waktu pembentukan kalus terjadi pada 6 bulan setelah tanam (bst). Regenerasi tanaman dilakukan dengan memindahkan embrio yang dihasilkan pada percoban pertama ke media perlakuan dengan rancangan acak lengkap 2 faktor terdiri dari 4 taraf konsentrasi BAP (0; 2mg/l; 4 mg/l; 6 mg/l) dan 4 taraf konsentrasi NAA (0, 0,5 mg/l; 1 mg/l; dan 1,5 mg/l). Multiplikasi tertinggi terjadi pada media dengan komposisi BAP 6 mg/l dan NAA 0,5 mg/l, jumlah rata-rata tunas yang dihasilkan sebanyak 5 tunas pada 1 bst. Regenerasi tunas 1 bst untuk pembentukan plantlet dan akar dilakukan pada media Murashige dan Skoog1962 tanpa penambahan zat pengatur tumbuh, plantlet yang sudah berakar diaklimatisasi di green house pada media Sekam bakar.

 Kata kunci : embriogenesis, regenerasi, anthurium.

Mini Poster - Irni Furnawanthi - Embriogenesis Somatik Anthurium

Mini Poster – Irni Furnawanthi
Embriogenesis Somatik Anthurium

 

Posted in Mini Poster | Tagged ,

P.41. PENGARUH KONSENTRASI AIR KELAPA DAN MEDIA TANAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN ANTHURIUM WAVE OF LOVE SECARA IN VITRO

Minaldi*), Irni Furnawanthi, Elfarisna, Lastri
Balai Pengkajian Bioteknologi, BPPT. Gedung 630 Kawasan Puspiptek Serpong (naldi_rjb@yahoo.com)

Tanaman anthurium merupakan salah satu primadona di kalangan pecinta tanaman hias. Sosok daunnya yang kuat, indah dan kompak melambangkan kekuatan, kemegahan dan pengayoman sehingga tanaman ini dijuluki si raja daun. Perbanyakan secara konvensional dengan menggunakan biji memerlukan waktu yang relatif lama untuk pematangan dan perkecambahan biji. Teknik kultur jaringan dapat digunakan untuk membantu proses penyelamatan embrio yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi air kelapa dan media tanaman terhadap pertumbuhan Anthurium wave of love. Penelitian dilakuan dengan mengunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi air kelapa ( 0; 10%; 15% dan 20%). Faktor kedua adalah media tanam yaitu konsentrasi media dasar Murashige dan Skoog 1962 (1x MS; ½ x MS dan ¼ x MS). Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi air kelapa 15% merupakan konsentrasi optimum untuk parameter petumbuhan tinggi tanaman, jumlah akar dan warna daun. Media 1xMS menunjukkan hasil tertinggi pada pertambahan jumlah daun, panjang akar dan warna daun. Interaksi antara air kelapa dan perlakuan media memberikan hasil tertinggi pada perlakuan A1B1 untuk parameter pertambahan jumlah daun dan panjang akar, A3B2 pada parameter pertambahan tinggi tanaman, A3B4 pada parameter jumlah akar dan A3B1 pada parameter warna daun.

Kata kunci : Anthurium, air kelapa, MS.

OK-Mini Poster - Irni F - PENGARUH AIR KELAPA

Mini Poster – Minaldi dkk.
Pengaruh Air Kelapa dalam Kultur Anthurium in vitro

Posted in Mini Poster | Tagged ,

P.15. Studi Mekanisme Kendali Genetik Sifat Kopyor pada Kelapa dan Pemetaan Genetik Awal Genom Kelapa Kopyor

Ismail Maskromo1,2, Sudarsono2 , Hengky Novarianto1, Sukendah dan Dewi Sukma2

1Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain (Balitka), Manado (is_maskromo@yahoo.com), 2PMB Lab., Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB, Jl. Meranti – Kampus Darmaga, Bogor 16680 (s_sudarsono@ymail.com). 3 Faperta, UPN Veteran Jatim, Surabaya

Abstrak

Kelapa kopyor merupakan tanaman kelapa “mutan” asli Indonesia.  Mekanisme kendali genetik dan pola pewarisan sifat kopyor pada mutan ini belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari mekanisme kendali genetik dan pola pewarisan sifat kopyor serta pemetaan awal genom kelapa kopyor. Mekanisme kendali genetik, pola pewarisan, dan  pembuatan peta genetik awal genom kelapa kopyor akan dipelajari dengan model persilangan serta pemanfaatan bibit hasil selfing dan pseudo-testcross. Marker SSR akan digunakan untuk pembuatan peta genetik genom kelapa kopyor. Persilangan terkontrol akan dilakukan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah dan Kebun Percobaan Kima Atas, Balai Penelitian Tanaman Palma, di Manado, Sulawesi Utara. Bahan tanaman untuk model persilangan selfing menggunakan tanaman F1 hasil silangan antara Genjah Kuning Nias (GKN) x Kopyor Dalam Homozigot hasil kultur embrio yang telah berumur 7 tahun. Selfing akan dilakukan pada 18 – 20 tandan bunga untuk mendapatkan 180-200 buah hasil silangan. Model persilangan pseudo-testcross menggunakan tetua betina kelapa Genjah kopyor kuning  (heterozigot)  dengan kelapa Dalam kopyor homozigot hasil kultur embrio, untuk mendapatkan sebanyak 80-100 buah hasil silangan. Data yang diperoleh akan dianalisis dengan Chi-square untuk sifat buah normal dan kopyor. Bibit hasil persilangan selfing dan pseudo-testcross berupa bibit alami yang dikecambahkan dari buah dan bibit hasil kultur embrio akan dianalisis DNA nya menggunakan 49 lokus marker SSR. Data molekuler SSR dari populasi bibit selfing hibrida kopyor dan pseudo-testcross akan digunakan untuk membuat peta genetik awal genom kelapa kopyor, menggunakan perangkat lunak MAPMAKER/EXP 3.0b. Kegiatan penelitian ini sedang berlangsung, sehingga hasil lengkapnya akan dilaporkan kemudian.

Kata kunciMekanisme kendali genetik, sifat kopyor, peta genetik, genom, kelapa kopyor, Marker SSR

POSTER KOPYOR TEMU PAKAR BIOTEK - ISMAIL AND TEAM

Mini Poster – Ismail Maskromo dkk.
Kelapa Kopyor – Kendali Genetik dan Pewarisan Sifat Kopyor pada Kelapa

Posted in Mini Poster | Tagged ,

P.39. PENGARUH MEDIA KNUDSON’C TERHADAP UJI DAYA SIMPAN BIJI ANGGREK Paphiopedilum supardii SECARA IN VITRO

 Elizabeth Handini, R. Vitri Garvita
Pusat Konservasi Tumbuhan- Kebun Raya Bogor (vitz_dan@yahoo.co.id)

Abstrak

Paphiopedilum supardii adalah anggrek endemik yang berasal dari Kalimantan. Perbanyakan melalui biji dilakukan untuk mempertahankan keragaman genetik tetapi membutuhkan waktu yang lama hingga berbunga. Konservasi ex-situ biji secara in vitro tidak membutuhkan ruang yang luas, tidak tergantung mikoriza serta dapat disimpan dalam jangka waktu yang relatif lebih lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media Knudson’C (KC) pada perkecambahan anggrek Paphiopedilum supardii serta untuk mengetahui daya simpan biji anggrek Paphiopedilum supardii dengan metode penyimpanan dalam freezer pada suhu -20 °C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biji Paphiopedilum supardii dapat berkecambah maksimal pada media KC 80 % dibandingkan dengan media KC 60 % dan KC 100 %.

Kata Kunci : Paphiopedilum supardii, in vitro, Knudson’C, biji

Mini Poster - Vitri Garvita - Kuljar Anggrek

Mini Poster – R. Vitri Garvita
Kultur Jaringan Anggrek Paphiopedilum supardii

 

Posted in Mini Poster | Tagged ,

P.46. PENGGUNAAN 2,4 D DAN PICLORAM UNTUK INDUKSI KALUS EMBRIOGENIK TANAMAN KELAPA KOPYOR SECARA IN VITRO

Siti Halimah Larekeng, Nurhayati AA. Mattjik, Agus Purwito, dan Sudarsono

Lab. PMB, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Jl. Meranti – Kampus Darmaga, Bogor 16680 (sitih5h_82@yahoo.com, s_sudarsono@ymail.com)

Abstrak

 Teknologi kultur in vitro yang dapat memproduksi bibit kelapa secara masal diperlukan dan salah satunya adalah melalui induksi embriogenesis somatik. Teknologi embriogenesis somatik telah digunakan untuk perbanyakan masal pada sejumlah tanaman palma seperti kelapa sawit (Rival et al. 1997) dan kurma (Eshraghi et al. 2005). Hasil studi menunjukkan bahwa kalus embriogenik dan embrio somatik kelapa dapat diinduksi dari berbagai organ, seperti infloresens, daun, plumula (Chan et al. 1998), dan embrio (Samosir et al. 1998). Palem Macaw (Acrocomia aculeata) juga menggunakan eksplan embrio zigotik untuk menginduksi embriogenesis somatik dalam media induksi dengan media Y3 sebagai media dasar dan 4-amino-3,5,6-trichloropicolonic acid (picloram) atau 2,4-dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D), yang dikombinasi dengan maupun tidak dikombinasi dengan N-phenyl N`1,2,3 thidiazol-5-yl urea (TDZ) (Moura et al. 2009). Hasil awal penelitian memperlihatkan untuk penggunaan 2,4 D dan Picloram dengan konsentrasi rendah (5 µM – 25 µM) ternyata belum mampu menginduksi pembentukan kalus, sehingga dalam rencana penelitian selanjutnya akan digunakan 2,4 D dan Picloram dengan konsentrasi antara 200 , 400 dan 600 µM. Embrio zygotic yang digunakan sebagai eksplan juga akan diberi perlakuan pre-treatmen untuk meningkatkan kemungkinan pembentukan kalus dan kalus embriogenik dari eksplan.  Dengan penggunaan perlakuan konsentrasi ZPT dan pre-treatment embrio zygotic tersebut diharapkan akan dapat dihasilkan kalus embriogenik yang akan dapat digunakan untuk induksi regenerasi embrio somatic secara berkelanjutan.

Kata kunci: embriogenesis somatik, kelapa kopyor, 2,4 D, picloram.

Mini Poster - Siti Halimah Larekeng - Coconut Kuljar

Mini Poster – Siti Halimah Larekeng
Kultur Jaringan Kelapa Kopyor – Induksi Embryogenesis Somatik

Posted in Mini Poster | Tagged ,